Tuesday, March 15, 2011

PATAH HATI ...

PATAH HATI berasal kata patah dan hati. Kata “patah” adalah kata sifat (adjective) yang berarti rusak (kacau) atau keadaan yang tidak sebagaimana mestinya (tidak normal). Contoh, Ranting pohon itu telah patah. Yang berarti, ranting pohon itu telah rusak. Sedangkan kata “hati” adalah kata benda (noun) yang berarti perasaan. Contoh, Orang itu suka makan Hati. Yang berarti, orang itu suka makan perasaan orang lain (baca: suka membuat sedih perasaan orang).
Sehingga patah hati merupakan frase (gabungan kata) tidak setara karena disusun oleh dua kata yang berlainan, yakni kata sifat dan kata benda. Dan patah hati bisa diartikan dengan suatu keadaan perasaan yang rusak (kacau) atau tidak sebagaimana mestinya.
Terlepas dari itu semua, patah hati memiliki dampak yang sangat serius bila tidak ditanggulangi secara sungguh-sungguh. patah hati adalah kebalikan dari “Jatuh Hati” (baca: jatuh cinta). Jika orang yang jatuh cinta mengalami seperti apa yang dikatakan oleh peribahasa:
Kalau sudah jatuh cinta, tai kucing pun rasa cokelat. :shock:
Maka, orang yang mengalami patah hati akan mengalami seperti apa yang dikatakan oleh peribahasa:
Kalau sudah patah hati, cokelat pun rasa tai kucing. 
Saat orang jatuh cinta, semua terlihat berbunga-bunga.
Sebaliknya, kalau orang sudah patah hati, maka semuanya terlihat seperti berduri-duri. Inilah sebabnya kenapa orang yang sedang patah hati susah tidur. Kenapa begitu? Karena ia melihat bantalnya berduri, kasurnya juga berduri, semuanya berduri, hingga ia gelisah dan tidak bisa tidur meskipun sebenarnya ia perlu tidur. 
Maksud saya yang sebenarnya adalah: ketika seorang mengalami patah hati, ia mengkonversi segala perasaan yang “tidak nyaman” dalam hatinya ke dalam bentuk-bentuk kesedihan yang lebih konkrit yang mengindikasikan bahwa ia benar-benar sedang bersedih. Bentuk-bentuk kesedihan yang lebih konkrit itu misalnya dalam bentuk tak ada selera makan, kegelisahan, susah tidur (insomnia), suka menyendiri, suka melamun, kehilangan konsentrasi, depresi, shock, dan kurang responsif terhadap hal di sekelilingnya.
Sehingga orang yang sedang mengalami patah hati hampir-hampir tidak akan pernah bisa berbohong dalam hal menyembunyikan keadaan perasaannya yang sebenarnya. Meskipun ketika ia ditanya seseorang dengan pertanyaan, “Apa kau baik-baik saja?”, dan ia menjawab, “Ya, aku baik-baik saja”. Padahal, dalam kenyataannya ia sedang tidak baik-baik saja. Kebanyakan orang yang mengalami patah hati selalu berusaha meng-enkripsi (baca: memendam/menyembunyikan) perasaannya sebaik mungkin, karena ia sadar sekalipun ia memberi-tahukannya kepada orang lain, orang lain tak akan mengerti dan tidak akan paham tentang apa yang dirasakannya. 
Bagaimana mengatasi patah hati?
  1. Kesadaran yang mendalam

    Anda harus sadar bahwa kekasih Anda itu bukanlah segalanya.
  2. Menghindari ketergantungan perasaan
    Anda juga harus belajar mandiri dalam menyayangi diri Anda sendiri. Anda tak boleh bergantung sepenuhnya kepada kasih sayang orang lain dalam menyayangi diri sendiri. Anda harus yakin, bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang paling mengerti tentang diri Anda. Sebab itulah, sayangi betul jiwa Anda dari berbagai macam kehancuran.
  3. Belajar melupakannya
    Anda mungkin tidak akan bisa melupakannya secara keseluruhan. Tapi setidaknya Anda bisa mengurangi frekuensi ingatan Anda tentang dirinya secara bertahap. Ini dimaksudkan untuk mengurangi beban perasaan yang terpakai. Agar perasaan Anda bisa booting (baca: merespon) lebih cepat. Lupakanlah dia secara perlahan-lahan, mulai dari no. handphonenya, alamat emailnya, makanan kesukaannya, warna favoritnya, dan hal-hal yang berhubungan dengan dia. Meskipun, toh Anda mungkin tak akan bisa melupakan namanya ataupun tanggal lahirnya. Disamping itu, berdoalah agar bisa melupakannya. Setiap orang harus belajar melupakan sesuatu yang tidak penting (apalagi yang merusak) dalam hidupnya.
        1. Bagaimana menghindari patah hati?
  1. Berbahagialah bagi Anda yang belum pernah mengalami patah hati. Dan berusahalah menghindarinya, karena rasanya sangat tidak enak (baca: makan hati!). Ada cara yang unik agar Anda tidak ditimpa olehnya. Yakni dengan cara membuat rencana “B” dalam mencintai seseorang. Artinya, Anda tidak boleh percaya sepenuhnya kepada seseorang. Satu-satunya orang yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya adalah para Nabi dan Rasul (melalui kitabnya). Mereka adalah orang-orang yang telah dijamin kebenarannya. Namun, untuk masalah “rasa percaya” terhadap manusia biasa, maka kita perlu menaruh keraguan kepadanya, meski itu hanya sebesar 0.1%.
    Setiap orang perlu membuat rencana sampingan untuk menghindari kekacauan perasaan bila rencana yang utama rusak. Teknik seperti ini saya peroleh ketika saya menganalisa kesalahan fatal saya di masa lalu dalam hal mencintai seseorang. Kesalahan tersebut adalah, karena saya tidak membuat rencana B disamping rencana A yang saya buat. Saya terlalu yakin dengan rencana “A”, dan mengabaikan konsekuensi (baca: membuat rencana) yang lain. Akibatnya, ketika rencana A itu gagal maka, kacaulah perasaan saya.
    Agen rahasia (baca: pribadi sukses) “tidak pernah” hanya punya 1 rencana dalam menjalankan misinya (baca: kehidupannya). Dia punya puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan rencana sampingan agar ia berhasil dalam misinya (baca: kehidupannya). Anda hanya punya satu perasaan, dan Anda harus melakukan apapun agar perasaan Anda yang “satu itu” tidak hancur. Tak ada yang boleh menghancurkan perasaan Anda. Mengapa? Ya… seperti kata iklan, “karena Anda begitu berharga.” :D